Semakin Merdu Semakin Menyiksa
Mungkin semua berawal dari
keindahan matamu yang berselimutkan kacamata nan anggun, dari senyum bibirmu yang
lembut begitu hangat dipelupuk matanya, dari elok suara tawamu yang khas begitu
menyandu telinganya. Perlahan dengan dalam menyusup disetiap relung hati begitu
menggetarkan perasaan. sementara alunan rindu, desahan kasihnya membawanya pada
sebuah kesunyian, membawanya pada suatu kenyataan ketika nyatanya bayangmu
sudah lebih jauh melangkah dari angan-angannya, bayangmu semakin sulit ia
rengkuh semakin sulit untuk ia raih. Tapi dia tetap saja terpaku bertekuk lesu
disetiap kali senyum indahmu menyapa, disetiap kali ia dengar suara khas
tawamu. Dia hanya mampu pasrah mendengar cerita ceriamu bersama yang lain meski
itu tidak ia dengar langsung dari bibir mungilmu, cerita yang perlahan-lahan
menyampaikan pesan tersirat, pesan yang mengandung himbauan untuk segerah
menjauh, cerita ceriamu bersamanya yang kian dalam kian menyadarkannya untuk
segera menatap kenyataan yang tak lagi sejalan dengan angan. Bernyanyilah ia,
berdendanglah ia, lagunya darimu, rindunya nyanyian luka, semakin merdu semakin
menyiksanya.

Komentar
Posting Komentar