Beritahu atau biarkan saja berlalu?
Entah kenapa
akhir-akhir ini aku merasa sering sepi sendiri dan ingin segera mengakhiri masa
sendiriku ini. Rasanya sudah rindu sekali dengan masa-masa manis berdua saling
membelai saling mengamati satu sama lain yang memang sudah cukup lama tak
menyentuh kesibukanku. Rasanya sudah sangat rindu akan
pertengkaran-pentengkaraan kecil yang berujung indah dan saling melempar senyum
ketika satu sama lain sudah mulai menyadari bahwa pertengkaran kecil itu adalah
bumbu dari suatu hubungan yang sedang dijalani. Rasanya sudah sangat rindu
menyalurkan perhatian yang bernilai kasih sayang terhadap seseorang yang mengisi
sebagian besar relung rongga segumpal darah dalam dada ini. Tapi sayangnya
masih belum juga ada.
Tapi semakin
kesini semakin aku ingin melepas kesepian ini, semakin aku ingat tentang
masa-masa sebelumnya, masa saat aku tak sendiri, saat aku masih bersamamu. Aku
ingat tentang sesuatu yang memulai dan awal dari kesendirian ini. Yaitu akhir
dari hubungan kita waktu itu adalah kebohongan dari ku agar tak begitu
membuatmu membenciku, kebohongan yang menurut aku itu adalah sebuah kebaikan.
Tapi kini aku lebih percaya dan yakin bahwasannya kebohongan itu tidak pernah
disebut dengan kebaikan, apapun latar belakang tujuan ataupun alasannya.
Kebohongan tetaplah kebohongan dan itu bukanlah sesuatu tindakan yang benar.
Dan sampai
saat ini kamu tidak pernah tahu apa yang sebenarnya membuat hubungan kita
berakhir, yang kamu tahu yang membuat hubungan kita berakhir pada waktu itu
hanya sebatas kebohonganku itu. Belakangan ini sering sekali dalam benakku terlintas
ingin aku menemuimu lalu berbicara tetang apa yang sebenarnya terjadi pada
waktu itu, aku ingin membuat pengakuan. Seakan masih ada beban yang masih aku
pangku ketika aku tak kunjung memberi tahumu, tapi disatu sisi aku tak ingin
mengganggu. Tak ingin aku mengganggu tapi aku sendiri merasa terganggu.
Mengganjal, iya! sangatlah mengganjal bagiku tapi aku rasa kamu sudah tak mau
tahu karena memang dimatamu aku sudah terlalu salah.
Aku ingin
sekali untuk kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, tapi
memberitahmu dengan cara yang tepat aku tidak tahu. Aku ingin sekali bercerita
betapa gundahnya aku waktu itu, waktu aku dihadapkan dengan pilihan yang tak
mudah untuk aku terima, pilihan yang sangat rumit untu hidupku, pilihan yang
sangat menyudutkanku, pilihan yang mewajibkanku menimbang serta menenggelamkam dalam-dalam
egoku demi bahagia dan kelanjutan hidup seseorang. Ada sisi masa depan yang
harus aku selamatkan meski pada akhirnya aku harus merelakan, melepas sesuatu
yang telah aku tunggu sejak lama untuk aku memiliki, yaitu kamu.
Tidak ada
tujuan khusus atas keinginanku bercerita tentang hal ini melainkan hanya untuk
mengankat beban yang masih tersa membelengguku. Tidak agar kamu menilaiku baik
atau hebat, tidak agar kamu mau mendekat padaku lagi, bukan juga agar kamu
berantakan dengan hubunganmu yang sekarang. Tidak lebih dan tidak kurang hanya
agar aku tidak merasa terbebani dan kamu tidak harus terus percaya atas
kebohonganku waktu itu. Aku ingin meminta sedikit waktumu untuk supaya kamu
dengarkan aku bercerita aku berkisah tentang sesuatu yang selama ini masih aku
simpan erat masih aku pendam dalam. Tentang sebuah kisah yang waktu itu
membuatku harus menyakitimu dan memaksa hati untuk mengikhlaskanmu. Apakah kamu
punya waktu?
Perkara kamu
akan percaya atau tidak itu bukan kuasaku meski pada dasarnya kamu haruslah
percaya karena itu bukan sesuatu canda. Tapi kalaupun tak percaya akupun tak
memaksakanmu untuk percaya hanya saja akan aku mohon padamu, aku mohon
dengarkanlah, aku mohon simaklah tuturku, aku mohon luangkan sedikit waktumu. Tapi
sebelum aku bercerita dan berkisah kamu harus membuat janji denganku,
berjanjilah kisah dan cerita ini hanya akan kamu simpan tak kamu ubarkan.
Seandainya....
Komentar
Posting Komentar